Dalam pidatonya pada peresmian penerimaan mahasiswa baru ITB 2008-2009, Rektor ITB, Prof. Dr. Djoko Santoso, mewanti-wanti agar lulusan perguruan tinggi tidak menjadi “Sarjana Kertas” (Pikiran Rakyat, 14/08/08). Sarjana kertas adalah bukan dalam pengertian sarjana yang ahli membuat kertas, sehingga bisa kerja di pabrik pulp Indah Kiat. Tapi yang dimaxud sarjana kertas adalah sarjana yang lulus hanya karena ijasah tanpa disertai kemampuan sesuai dengan bidang yang ditekuninya di perguruan tinggi tempat dia belajar. Beliau mengingatkan bahwa mahasiswa jangan hanya mengejar kertas ijasah, tetapi harus mengembangkan kapasitas. “Sarjana harus memiliki kapasitas yang cukup untuk berbuat kebaikan” tutur Rektor ITB tersebut.

Ada yang menarik dari pernyataan pak rektor ini. Bahwa ukuran kesarjanaan seseorang itu ternyata bukan dari kertas ijasahnya, namun dari kapasitasnya untuk berbuat kebaikan. Jadi kalau banyak lulusan perguruan tinggi yang menjadi koruptor, atau terlibat dalam kasus korupsi, ini sama artinya bahwa perguruan tinggi di Indonesia belum banyak yang berhasil menelorkan sarjana. Perguruan tinggi di Indonesia baru berhasil membagikan ijasah kelulusan karena yang bersangkutan telah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran di perguruan tinggi tersebut. Masalah apakah bahan pelajarannya sudah dikuasasi dan terinternalisasi pada si calon sarjana, itu urusan lain. Jadi, apakah si lulusan telah menjadi sarjana atau belum, ternyata tidak dijamin oleh perguruan tinggi yang meluluskannya. What Indonesian Students!

Masalah kapasitas berbuat baik ini, nampaknya menjadi masalah besar bangsa ini. Meskipun dalam buku-buku sejarah dan peradaban, bangsa Indonesia disebut-sebut sebagai bangsa yang berbudaya, baik budi, dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar (si boy kaleeee!), ternyata dalam prilaku kesehariannya sangat jauh dari label ini. Prilaku kucing garong, kunyuk, dan musang berbulu domba, ternyata sudah mewabah di sini. Saya hanya bisa prihatin ketika salah satu ex mahasiswa saya, terlibat kasus korupsi milyaran rupiah, hanya setelah 2 tahun lulus dan bekerja di perusahaan berskala nasional. Sekali lagi, kapasistas berbuat baik ini, memang yang harus menjadi perhatian kita semua, ketika akan memberikan label sarjana kepada seseorang. Ketika, saya membaca pemberitaan kasus korupsi ex mahasiswa tadi di Koran, saya memang sempat mengingat-ngingat prilaku beliau semasa kuliah. Ada beberapa kenakalan yang nampaknya menjadi bakat terpendam dari beliau: (i) pernah memalsukan bukti lunas pembayaran SPP, padahal beliau belum bayar; (ii) pernah merengek dan menangis tersedu-sedu memohon untuk diluluskan ketika dalam sidang skripsinya dinyatakan harus redefense.

Saya bukannya mau memberikan label buruk kepada seseorang, namun hanya ingin memberikan fakta, bahwa kebiasaan untuk berbuat tidak baik, ternyata merupakan kecenderungan. Artinya track record seseorang itu, tetap harus menjadi pertimbangan utama dalam menilai seseorang. Bibit, bebet, bobot, memang kriteria jitu yang diajarkan oleh para orang tua kita dalam menilai kapasitas seseorang.

Balik lagi kepada masalah sarjana kertas tadi, ini memang bisa jadi merupakan sumber utama dari carut marutnya negeri kita. Kalau aparat penegak hukum ikut korupsi, mungkin SH nya SH kertas. Kalau bankir terlibat suap, mungkin SE nya SE kertas. Kalau insinyur memanipulasi spek, mungkin STnya ST kertas. Kalau dokter, ikutan malpraktek, membantu aborsi pelaku seks bebas, mungkin dokternya dokter kertas. Kalau dosen bisanya cuma nakut-nakutin mahasiswa, sok killer tapi ngajarnya jelek, bikin penelitian tapi nyontek. itu namanya dosen kertas juga.

Sistem pendidikan kita yang berorientasi pada kuantitas lulusan, nampaknya tidak berhasil menciptakan orang-orang yang mampu berbuat baik. Kita terlalu picik menterjemahkan amanat UUD 45 bahwa pendidikan menjadi hak semua negara, dengan mengeksekusi bahwa semua murid harus lulus UAN atau Kejar Paket C. Dan semua yang sekolah di perguruan tinggi harus lulus, tidak boleh DO. Sehingga untuk lulus saja murid ditoleransi atau diperbolehkan untuk menyontek serta didukung oleh guru-guru, oleh pajabat dinas pendidikan, bahkan oleh bupatinya. Prilaku terpuji yang ditunjukkan oleh murid yang tidak menyontek dan guru yang tidak berkompromi, malah dianggap oknum yang akan mencoreng prestasi sekolah. Sungguh bangsa yang aneh …

Jadi bagaimana bisa jadi sarjana, dan mau serta mampu berbuat baik kalau didalam proses pendidikannya saja, ketidakjujuran sudah merupakan elemen yang secara implisit memang eksis. Adanya jokey dalam ujian saringan, ujian mata kuliah, pembuatan skripsi, tesis, dan disertasi, semakin melengkapi miringnya kualitas pendidikan bagi bangsa ini. Jadilah segalanya komplit, pake telor……… Pertanyaannya apakah ini bisa diperbaiki dan dibenahi? Tentu saja bisa! Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Probability selalu ada……. Yang penting harus dimulai dengan adanya willingness dulu.

Apa yang harus dilakukan agar tidak menjadi sarjana kertas? Ada beberapa hal yang perlu dikerjakan, yaitu:

  1. Laksanakan dengan konsisten, seruan untuk berbuat baik, mulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya: tidak membuang sampah sembarangan, tidak merokok di tempat umum, sopan dalam berlalulintas, tidak menyerobot, tidak main terabas, dan rajin-rajin mentraktir orang kalau memang punya duit. Belajarlah untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Tapi jangan menggesek kartu kredit melebihi kemampuan, karena kalau sudah dikejar-kejar debt kolektor, anda akan menyulitkan semua orang.
  2. Biasakan diri untuk bertanggung jawab. Jangan lempar batu sembunyi tangan. Lebih baik lempar uang segepok, dan sambil bersorak-sorak kegirangan. Orang akan menyangka anda baru dapet undian berhadiah atau warisan, atau bisa juga orang menganggap anda gila! Pokoknya, jangan meninggalkan masalah untuk orang lain, mulai juga dari hal yang kecil. Misalnya: memelihara kesehatan diri, membantu kesulitan keluarga, membantu kesulitan tetangga, memelihara dan memperbaiki lingkungan sekitar.
  3. Ikuti proses belajar dengan lengkap. Jangan membiasakan diri pake jockey absen. Kuasai materi pembelajaran dan sasaran keterampilan yang ada dalam setiap perkuliahan. Kerjakan tugas-tugas dengan kekuatan sendiri. Jangan biasanya copy paste dari pekerjaan orang lain. Copy paste adalah latihan korupsi yang paling sederhana dan tidak terasa. Latihan untuk tidak menghargai karya cipta orang lain ini kalau terbawa terus, akan membawa anda menjadi pelaku kriminal. Minimal anda nanti akan direkrut oleh mafia pelaku penggandaan CD lagu-lagu kompilasi atau DVD porno. Jadi hindari kebiasaan itu semaksimal mungkin
  4. Kalau sudah lulus, buktikan bahwa anda seorang sarjana. Tunjukkan kemampuan berbuat baik, melamarlah pada posisi-posisi dimana anda memang dapat mengerjakannya dengan baik, karena anda punya keterampilannya. Jangan merengek-rengek minta pekerjaan pada bidang yang tidak mampu anda kerjakan. Jangan juga kasak-kusuk nyogok atau menyuap demi masuk bekerja pada satu instansi, sampe-sampe harus kehilangan sebuah mobil dan uang ratusan juta. Kalau ingin bekerja mapan di Perusahaan bergengsi, lebih baik berusaha dari bawah, tanpa kenal menyerah.
  5. Kalau masih menganggur juga, jangan menyalahkan perguruan tinggi tempat anda belajar. Orang tidak mempekerjakan anda bukan karena perguruan tingginya, tapi karena memang kompetensi dan kemampuan anda memang masih dianggap kurang. Jadi belajar dan kembangkan terus kemampuan anda, sampai orang mengakui bahwa anda memang asset buat mereka, bukan liabilities yang akan jadi beban. Rajin-rajinlah latihan panjat pinang, atur strategi yang matang. Kalau masih menganggur juga, sampai dengan 17 agustus tahun depan, anda bisa mengais rejeki dari lahan panjat pinang ini. Di Bandung saja ada ribuan panjat pinang pada setiap 17 Agustus, kalau pangsa pasar anda 10 % saja kan lumayan. Jangan lupa konsultasi kepada Tika Project P.
  6. Kalau lingkungan dan lapangan pekerjaan masih belum juga menerima anda, cobalah membuktikan kemampuan diri dengan bekerja pada diri sendiri. Berkaryalah pada usaha yang dibangun sendiri. Ini merupakan ajang pembuktian yang paling sederhana, bahwa anda memang sudah memiliki kualitas sarjana. Kalau anda mampu berkerja dan berguna bagi diri sendiri, berarti anda sudah berbuat baik bagi diri sendiri, dan tidak menjadi beban orang lain. Itu sama dengan anda sudah menjadi “the real sarjana”, bukan sarjana kertas lagi.

Ngomong-ngomong, sarjana kertas ini sebenarnya masih tersegmentasi lagi : ada kertas Perur yang differentiated dan mahal, ada kertas conqueror yang lux, ada karton manila yang tebel tapi murahan, ada kerta HVS yang tipis tapi bersih, ada kertas stensil yang buram, dan terakhir ada kertas bekas bungkus tahu ini yang dibuat dari kertas koran bekas lengkap dengan minyak jelantahnya. Maka makin terhinalan bangsa Indonesia ini, manakala di sini banyak sekali sarjana kertas bekas bungkus tahu ini dan bala2…