Sebelum tsunami dan perdamaian Nota Kesepahaman, dapat dikatakan bahwa Aceh tidak berkembang sama sekali. Selama konflik bersenjata yang berlangsung dari tahun 1974 sampai 2005, pariwisata benar-benar diabaikan dan satu aman bisa mengatakan bahwa hampir tidak ada yang terjadi dalam hal pariwisata meskipun sebenarnya ada mengunjungi beberapa persahabatan. orang lokal dan orang-orang dari luar Aceh berpikir punya banyak potensi wisata karena pantainya yang indah dan relatif tak tersentuh dan peninggalan kesultanan dan era kolonial.

Setelah tsunami, Aceh mulai bekerja pada hal-hal yang dapat mengembalikan kemakmuran kepada masyarakat Banda Aceh. Untuk melakukan itu Banda Aceh bekerja sama dengan Aceh Besar dan Sabang melalui program yang disebut Basajan (Banda Aceh, Sabang, Janto – ibukota Aceh Besar).

Pariwisata di Banda Aceh tempat penekanan pada wisata rohani, budaya dan tsunami. Aceh, sebagai daerah yang telah mengadopsi hukum syariah Islam dan memiliki beragam budaya, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun internasional seperti dari Malaysia. Bencana alam tsunami yang melanda Banda Aceh menciptakan monumen sendiri unik dramatis: PLTD Apung, kuburan massal, dan perahu di atas rumah adalah beberapa tempat dimana anda dapat mengunjungi.

Di Aceh Besar ada petualangan wisata memungkinkan pengunjung untuk menikmati tantangan alam atau melihat-lihat tempat di mana orang-orang GAM bersembunyi, untuk melihat di mana mereka tinggal, bagaimana mereka hidup, dan apa yang mereka lakukan.

Sabang akan menjadi pusat wisata bahari berkat ke situs selam yang indah dan sangat dikenal luas Pulau Weh dan Pulau Rubiah, menyelam bahwa beberapa orang mengatakan lebih unggul ke Bunaken. Air sangat jelas dan ada keragaman spesies ikan. Ketiga daerah bisa ditawarkan kepada wisatawan dalam satu paket. Jadi, sebenarnya ada banyak hal untuk menarik orang untuk mengunjungi Banda Aceh.

Sampai sekarang, orang telah mengunjungi Banda Aceh untuk hari hanya dua atau tiga sekaligus, namun skema Basajan diharapkan dapat memperpanjang panjang tetap. Melalui program Visit Banda Aceh, wisatawan akan mengisi hotel dan akan ada sebuah ketukan ekonomi berlaku untuk populasi seperti peningkatan tuntutan untuk udang, ikan, sayuran dan lain-lain yang sama berlaku untuk permintaan transportasi, suvenir tradisional dan makanan yang pada gilirannya akan membantu industri kecil di Aceh untuk sejahtera. Hal ini akan menyebabkan multiplier effect yang akan memberi energi dan mengangkat mata pencaharian penduduk.

Penerapan hukum syariah Islam tidak akan membatasi turis seperti mereka mengeksplorasi Aceh, karena syariah hanya berlaku untuk pemeluk Islam, dan bukan orang luar. Wisatawan yang berkunjung ke wilayah ini akan merasa aman dan nyaman, misalnya, mereka tidak harus memakai jilbab sementara di Banda Aceh.

Dalam mendukung Kunjungi Banda Aceh 2011, peristiwa-peristiwa besar seperti Perayaan Ulang Tahun Banda Aceh, Taman Sari Festival, Festival Baiturrahman dan Aceh Pekan Budaya akan diselenggarakan.

Perkembangan yang mendukung industri pariwisata juga akan dilakukan terus menerus seperti museum tsunami, PLTD terapung dan rumah situs tsunami. Renovasi juga dilakukan di makam ulama terkenal (ulama Islam / guru) dan raja-raja dan Hotel Aceh, dimana Presiden Soekarno menerima uang dari masyarakat Aceh untuk membeli “RI-1”, Republik pesawat pertama di Indonesia. Kami berharap bahwa dengan hari ini satu visi Banda Aceh akan menjadi salah satu tujuan wisata yang besar di Indonesia.

http://travelaceh.com/visit-banda-aceh-year-2011