Ospek, singkatan dari orientasi dan pengenalan lingkungan kampus, adalah suatu acara yang diadakan oleh pihak kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Para mahasiswa baru tersebut dapat dikatakan sebagai anggota baru dari keluarga besar sivitas akademika fakultas. Karenanya, ospek boleh dikata sebagai suatu momen untuk menyambut sekaligus memperkenalkan lingkungan yang relatif baru kepada mahasiswa baru.

Pada umumnya, ospek selalu diasosiasikan dengan hal negatif bagi sebagian orang. Sebagai contoh, terkadang orang (termasuk mahasiswa baru) membayangkan ospek sebagai kegiatan/ajang balas dendam senior kepada juniornya, sehingga dipenuhi oleh tindakan-tindakan kasar, aneh, tidak rasional, dan umumnya ‘menyiksa’ mahasiswa baru. Ada yang menganggap bahwa ospek dipenuhi oleh kekerasan fisik dan mental, seperti tampar-menampar, olahraga fisik yang berlebihan, atau hukuman bagi para junior yang dianggap tidak logis. Pemberitaan media massa setiap tahunnya juga tidak bisa luput dari cerita mengenai kekerasan selama ospek, yang berujung kepada derita mahasiswa baru (baik fisik maupun mental), hingga ada yang meninggal.

Ospek yang benar

Sesuai namanya, ospek haruslah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru kepada lingkungan dan kehidupan kampus. Maka segala kegiatan yang akan dilakukan saat ospek harus bertujuan dan memberikan manfaat positif kepada mahasiswa baru. Jangan sampai mereka melakukan sesuatu yang justru tidak ada manfaatnya bagi diri mereka.

Ada kalanya dalam kegiatan ospek kampus tertentu, para mahasiswa baru diharuskan melakukan/membawa sesuatu yang aneh, misalnya: disuruh mengenakan petai/jengkol yang digantung di leher, kaleng minuman kosong berisi batu kerikil yang dililitkan di pinggang, membawa keranjang sampah, dan sebagainya.

Ini adalah contoh ospek yang salah, karena hal tersebut tidak ada manfaatnya bagi para mahasiswa baru. Mereka melakukannya semata-mata hanya untuk memenuhi perintah senior, di mana para senior menjadikan hal tersebut sebagai sarana mengolok-olok mahasiswa baru. Ospek yang seperti ini harus dihindari. Di dalam ospek yang benar, segala tugas/perintah yang wajib dilakukan oleh mahasiswa baru selama ospek harus memberikan manfaat positif/pengetahuan baru kepada mereka. Jangan sampai mahasiswa baru melakukan sesuatu hal yang bersifat sia-sia bagi mereka, dan bahkan menjatuhkan diri mereka di hadapan seniornya.

Harus ada esensi yang bisa diambil dari setiap hal yang dilakukan dan bersifat baik untuk kehidupan mereka di kampus selanjutnya, misalnya: Menumbuhkan kekompakan di dalam satu angkatan, Menambah pengetahuan, Menimbulkan rasa kepemimpinan (leadeship), Melepaskan kepribadian SMA yang kurang baik, dan beralih kepada kepribadian mahasiswa yang baik,

Pelaksanaan ospek juga harus mengikutsertakan, atau setidaknya diketahui oleh pihak universitas dan fakultas. Sehingga ospek tersebut bukanlah suatu kegiatan ilegal yang diselenggarakan oleh pihak mahasiswa tanpa ada kontrol dari pihak yang lebih tinggi. Kehadiran pihak universitas dan fakultas sebagai pelindung sekaligus pembimbing kegiatan akan membuat kegiatan ospek berlangsung dengan baik dan benar, sekaligus mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Kekerasan selama ospek

Pengalaman sudah membuktikan, bahwa kekerasan baik fisik maupun mental, hanya membawa dampak negatif terhadap peserta ospek. Kekerasan fisik telah menimbulkan kematian pada beberapa kasus, baik karena kekerasan fisik secara langsung (dipukul, ditendang, ditampar, dsb) maupun yang tidak langsung (seperti disuruh memikul batu bata sambil jalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh, berjalan mendaki, dsb). Tidak ada satu alasan pun yang mampu membenarkan adanya kekerasan fisik dan mental selama kegiatan ospek.

Mahasiswa baru bukanlah (maaf) binatang, atau benda mati yang dapat diperlakukan semena-mena sesuai keinginan senior. Mereka juga adalah manusia, sama seperti seniornya, yang memiliki batas ketahanan fisik dan mental. Perlakuan yang melanggar ketahanan fisik dan mental peserta merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Panitia ospek harus menjunjung tinggi hal tersebut.

Selama kegiatan, panitia ospek diwajibkan memberi teladan kepada mahasiswa baru. Keteladanan tersebut dapat berupa sikap kedisiplinan, keseriusan, berpikir kritis, berjiwa kepemimpinan dan kekompakan sesama mahasiswa. Tidak ada hal buruk yang dicontohkan oleh panitia ospek kepada mahasiswa baru.

Para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan mengemukakan pendapat demi menambah pengetahuan mereka. Suatu kegiatan yang jauh dari hal yang namanya kekerasan. Mahasiswa baru juga akan dibawa berkeliling ke seluruh penjuru kampus, dan diperkenalkan dengan lingkungan kampus. Mereka bebas bertanya mengenai apapun, sebab pengenalan yang baik terhadap lingkungan kampus dan keluarga besar civitas akademika akan menambah kedekatan mereka terhadap almamaternya sendiri.

Kesimpulan

Ospek yang baik adalah kegiatan, yang sesuai dengan namanya, yaitu untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus. Tidak boleh ada kekerasan, yang justru menjatuhkan mahasiswa baru baik fisik maupun mental. Sebaliknya, mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan kedekatan terhadap almamater demi menumbuhkan jiwa kemahasiswaan yang baik dan rasa sebagai bagian dari keluarga besar civitas akademika. Hendaknya kegiatan ospek yang menyimpang dan penuh kekerasan tidak dilakukan lagi, dan diganti dengan kegiatan ospek yang bermanfaat bagi para mahasiswa.

sumber http://sectiocadaveris.wordpress.com dan http://cakarelang.blogspot.com)