Indonesia pada tahun 2011 nanti ditargetkan sebagai tahun kunjungan wisata. Sekitar 6,1 juta pelancong diharapkan berkunjung ke negeri ini. Aceh pun tak ketinggalan. Meski baru di terpa bencana yang dahsyat, Pemerintah Provinsi Aceh juga berinisiatif mencanangkan program kunjungan wisata, lantas muncullah program Visit Banda Aceh 2011

Inventarisasi potensi wisata pun gencar dilakukan. Promosi dimana-mana. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata , Jero Wacik pun telah meresmikan program Visit Banda Aceh Year 2011, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat. Sekarang masyarakat awam boleh jadi sangat mengenal istilah Visit Banda Aceh 2011. Sebuah program yang memang dan sengaja diposisikan untuk menggalakkan kepariwisataan di negeri Tanoh Rencong ini.

Target wisatawan tentu saja tidak terbatas untuk orang Indonesia saja. Mendatangkan wisatawan dari segala penjuru dunia adalah target idealnya. Maka ketika berbicara perihal promosi, selayaknyalah promosi itu menggunakan media yang mampu menyampaikan informasi secara massif dan efektif tanpa batasan geografis dan waktu.

Pilihan media promosi dengan memanfaatkan teknologi informasi, yakni internet lalu jadi pilihan utama. Pemerintah daerah pun lantas berbenah dengan meluncurkan situs resmi semacam http://www.acehprov.go.id atau http://www.bandaacehtourism.com serta sederet situs-situs pemerintah daerah tingkat II lainnya. Kehadirannya selain sebagai situs informasi daerah, juga sebagai sumber informasi program Visit Banda Aceh tersebut. Makanya, tak heran konten muatan isi situs sebagian berupa informasi materi kepariwisataan, dari mulai tempat wisata, cinderamata hingga akomodasi penginapan.

Ternyata ihwal mempromosikan daerah tak hanya dilakukan oleh situs resmi tersebut. Sebab jika anda mengklik, kata  Aceh, Banda Aceh, atau kata-kata lain bertema sama, kita akan menemui sejumlah situs lain yang menawarkan ragam informasi tentang segala hal dari provinsi ini. Termasuk potensi wisatanya, dari mulai foto tempat wisata hingga ragam kulinernya.
Sumber informasi ini sebagian besar berbentuk web blog, atau kadang disingkat blog. Adanya penggiat blog (blogger) yang ternyata memusatkan perhatiannya dalam promosi Aceh merupakan fenomena tersendiri. Fenomena itu makin menggejala akhir-akhir ini. Meski tampaknya semacam “terlewatkan “ dalam perhatian awam.
Karenanya ketika mengatakan bahwa masyarakat belum mendukung sepenuhnya program Visit Banda Aceh ternyata tak benar juga. Sebab ada individu bagian dari masyarakat yang menggiatkan diri dalam sebar menyebar potensi alam Banda Aceh. Mereka adalah blogger dengan ragam tema seperti diatas, content_nya khas Aceh. Kehadirannya tak seperti media massa seperti koran atau media elektronik lain, namun eksis di sejumlah situs pencari, semacam google dan yahoo.

Pertanyaannya lalu, apakah blogger lokal mampu berperan dalam proses promosi potensi daerah sendiri, terutama potensi wisata Aceh ?, sejauh mana efektifitas blog sebagai media promosi ?, Apakah eksistensi para blogger Aceh ini dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan (strength) meminjam istilah manajemen SWOT untuk mengukur kemampuan proses berpariwisata kita?
Internet adalah perkembangan teknologi yang memungkinkan manusia benrinteraksi secara cepat dan massif. Penggunanya yang mencapai angka 1,5 Milyar adalah pasar yang siap disuguhi ragam informasi. Untuk Indonesia sendiri , netter user mencapai 30 juta lebih. Sebuah angka yang mestinya bertambah untuk tahun-tahun mendatang berkat dukungan operator yang makin menguat. Penetrasi internet kini bahkan mencapai pedalaman Indonesia. Sebuah hal yang menggembirakan.
Blog singkatan dari “web blog” sebuah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan (posting) pada sebuah halaman web umum tersebut fungsinya sangatlah beragam dari area curhat-curhat hingga kampanye sebuah partai politik, dari bersifat personal hingga umum.

Bicara tentang blog, kita berbicara tentang perkembangannya yang luar biasa, tahun 2007 ada sekitar 300 ribu blogger yang eksis di Indonesia, menginjak akhir 2008, jumlah blogger yang terdeteksi sedikitnya 600 ribu orang. Predikasi bahwa hingga akhir 2009, ada sejuta blogger di Indonesia makin mendekati. Missal, sejak diakuisisi Google.com pada akhir 2002 lalu, Blogger.com milik PyraLab tersebut ternyata mengglobal dan perkembangannya seakan tak terbendung baik dari pengguna maupun fitur-fitur didalamnya.

Peningkatan jumlah ini seiring dengan kemudahan akses internet. Terlebih, tambahan kuantitas dari pengguna internet baru, yaitu kaum muda, turut memperbanyak angka pengguna blog. Rata-rata penggiat blog adalah kaum muda, yang memang tumbuh dari lingkungan dunia digital beserta devicenya. Mereka tumbuh menjadi digital massive, aktif menjelajahi blogosphere (dunia blog). Mereka adalah produsen sekaligus konsumen dalam aktivitas blogging ini.
Bicara blog, tentu tak hanya blogger.com, masih ada semacam wordpress.com atau multiply.com. Meski beragam, tapi semuanya sama yakni berhubungan tentang personal karakter. Sebab blog murni dibuat berdasarkan pribadi masing-masing. Fakta ini lalu menyadarkan kita bahwa informasi tidak semata-mata milik pelaku media massa resmi atau sebuah institusi berbadan hukum.

Bisa dipahami aktivitas nge_blog lantas melahirkan citizen journalism. Sebuah istilah untuk mengungkapkan betapa tiap-tiap pribadi berkemampuan sebagai produsen informasi bagi masyarakat luas. Tidak perlu berasal dari sebuah institusi, atau sebuah lembaga pemerintah maupun institusi swasta bonafid sekalipun. Citizen journalism, sebuah masa dimana setiap orang bisa menjadi penyampai informasi.
Menilik sejumlah fakta diatas, penggiat Blog dalam kapasitasnya jelas sangat berperan dalam mensukseskan program Visit Banda Aceh 2011. Hubungannya dengan promosi wisata Banda Aceh jelas sangat terkait. Kemampuan blogger sebagai produsen informasi sekaligus konsumen hampir menyamai kemampuan sebuah web site resmi milik pemerintah. Sebuah blog bisa mengglobal dan jadi sumber informasi utama dalam dunia maya. Terlebih bila melihat trend pengguna internet yang makin meluas dan merata seperti diatas.
Salah satu yang membuatnya mengglobal adalah “hukum blogger” yakni perbanyak silaturahmi, akan mendatangkan rejeki, datangnya ilmu juga peningkatan trafik pengunjung. Hukum positif disini berlaku, siapa yang banyak membantu, dia juga akan banyak dibantu, siapa yang banyak memberi/ share dialah yang akan mendapat share dari orang lain. Lagian silahturahmi ciri khas orang Melayu seperti Banda Aceh.

Sebuah web ataupun blog dipandang efektif jika mampu mendatangkan sebanyak mungkin pengunjung. Traffic Rank nya tinggi. Semakin tinggi pengunjung, jelas menunjukkan kemampuan blogger tersebut yang mumpuni. Semakin banyak yang membaca, jelas semakin banyak informasi yang tertanam di benak pengunjungnya.

Ketika seorang blogger meng_upload sebuah foto pantai Lampuuk. Dalam dunia maya, foto tersebut punya seribu kesempatan untuk diakses oleh masyarakat dunia, saat itu juga dan kapan pun. Ketika sebuah feature tentang objek wisata di posting dalam sebuah blog, dia punya kesempatan yang sama untuk dibaca oleh semua orang dari belahan dunia manapun. Yang terjadi adalah penguatan informasi bahkan bisa adanya penambahan informasi.
Lantas sejauh mana efektifitas sebuah blog dalam mempersuasi pengunjung. Dalam komunikasi, perubahan bisa dilihat dari tiga macam, yakni perubahan pengetahuan, perubahan sikap hingga ke perubahan prilaku. Idealnya perubahan ketiga yang diharapkan. Ini artinya bukan saja para pengunjung jadi tahu tentang potensi wisata Banda Aceh, namun mereka jadi tergerak hati untuk datang berkunjung.
Bila ada ratusan blog berbicara tentang keindahan alam daerah ini, semisal Pantai Lhoknga maka ratusan informasi tentang itu akan saling menunjang dalam membentuk imagi pengunjung. Kekuatan penetrasi semacam ini jelas akan sangat mendukung adanya perubahan prilaku seperti diharapkan. Blog kemudian jelas sangat efektif.
Sekedar sharing, ketika berbicara efektifitas, yang menjadi titik perhatian pertama adalah karakter utama blogger dalam menaikkan ranking blognya. Sebab pribadi penggiat blog berbeda-beda dalam memandang arti kehadiran blog buatannya. Jika rajin silahturahmi maka lalu lintas pengunjung akan tinggi. Jika rajin tukar menukar link juga mampu menaikkan trafik pengunjung. Istilah blogosphere, yakni kumpulan web blog juga muncul dari aktivitas ini.
Makin efektif lagi jika blogger memanfaatkan fitur yang terdapat dalam sebuah blog. Seperti fitur ruang komentar. Fitur ini memungkinkan pembaca bisa berinteraksi langsung dengan cara berkomentar, bertanya dan sejenisnya yang terdapat di bawah masing-masing posting. Hal yang yang membedakannya dengan situs web biasa. Jika situs web biasa lebih merupakan “arsip”, maka blog lebih merupakan “percakapan”.

“Percakapan” di sini bukan sekadar berarti interaktivitas blogger dan pembaca blog (blog reader) di ruang komentar, tapi juga berarti saling keterkaitan dan pertautan pranala (link) — thanks to fitur yang memungkinkan dilakukannya track-back, ping, feed dan seterusnya. Bisa dimungkinkan juga ada konsultasi mengenai kepariwisataan. Promosi personal bisa dibangun dari sini.
Kedua adalah penguatan materi dan segmentasi. Selain akan meningkatkan akuntabilitas, segmentasi juga akan memberi nilai lebih pada informasi yang diberikan. Semakin bisa dipercaya berita yang diposting maka akan lebih bernilai ia bagi pengunjung. Prinsip orisinalitas yang bukan asal kutip atau link dari blog lain juga semakin memperkaya informasi.

Segmentasi juga diperlukan untuk memberi fokus pada blog. Misal blog yang khusus bertema fotografi, cerita perjalanan, blog tentang aneka masakan kuliner, atau blog biro wisata, blok cerita perjalanan ke tempat wisata Banda Aceh. Segmentasi juga memungkinkan adanya semacam “pembagian tugas”. Sekaligus menyeimbangkannya dengan kemampuan para blogger sendiri.
Ketiga adalah konsistensi dan kontinuitas. Faktor ini lebih kepada persoalan internal blogger sendiri. Persoalan apakah blog ini bertahan seumur jagung, karena ikut-ikutan atau cuma sekedar singgah dan mencoba pada akhirnya juga akan sia-sia. Namun jika memang giat dan benar-benar fokus pada pengembangan blog. Kehadirannya jelas akan memberi nilai tersendiri.
Konsistensi akan melahirkan upaya terus menerus agar blog yang telah dibuat mampu memberikan informasi atau materi yang tematik. Sehingga konten lalu bisa menjadi rujukan yang komunikatif bagi browser maya. Di sisi lain, yakni faktor kekerapan / kontinuitas juga menjadi penting untuk membuat blog agar mampu terus up date sehingga terus dikunjungi oleh pengunjungnya.
Terakhir adalah pada usaha penguatan peran blogger. Misalnya komunitas Aceh Blogger Community. Komunitas ini lah yang bisa menjadi pendukung situs pariwisata tersebut. Seperti ungkapan, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Ungkapan ini mensyaratkan perlunya kesadaran kolektif akan pentingnya nilai bersatu. Bersama-sama untuk mempromosikan potensi wisata sendiri.
Banyak hal untuk membuat blog lebih bernilai dan efektif. Sebab kunci keberhasilan sebuah blog adalah statisitik pengunjung yang makin meningkat. Data itu lalu yang menjadi indikator seberapa jauh blog itu berperan sebagai sumber informasi bagi orang lain.

Meski seringkali blog dibuat dengan tujuan, yang beragam sedari unjuk diri, media promosi hingga mencari keuntungan dengan bergabung dengan grup penjualan seperti google adsense, atau sejenisnya. Namun terlepas dari motifnya, kemunculan blog mengenai promosi wisata Aceh, sepatutnya lah menjadi sebuah kebanggaan bagi daerah. Meski minoritas, sebab pengguna internet di wilayah sendiri yang masih terbatas namun bukan menjadi sebuah halangan.
Pantai-pantai eksotik di wilayah Banda Aceh banyak dipublish dalam blogger lokal, seperti contoh di multiply dan blogspot. Begitu pula dengan sejumlah tempat wisata, aneka masakan kuliner, adat istiadat, atau potensi wisata lainnya. Informasi bisa dikemas dengan beragam cara. Dari pengalaman pribadi hingga sebagai seorang pemburu berita. Pemerintah sepatutnya bangga dengan kemunculan blog yang mengemas kekayaan alam wisata Banda ini.
Pemerintah juga tak berarti lepas tangan.. Modal mentah ini sebenarnya bisa dikerahkan sebagai salah poin dalam elemen strength pada pola manajemen SWOT. Berbicara tentang peran lebih lanjut, Pemerintah juga bisa mengadakan kompetisi blog Bangka, atau semacamnya. Yang bertujuan selain memotivasi para blogger lokal juga memperkuat penetrasi informasi secara tidak langsung.

Kata Sandra Ball_Rokeach dan Melvin De Fleur dalam Dependency Theory_nya, semakin seseorang tergantung pada sebuah media untuk memenuhi kebutuhannya, maka media tersebut menjadi semakin penting utnuk orang itu. Ada hubungan yang integral antara pengunjung dengan blog. Ketika pengunjung merasa bahwa sebuah blog mampu memberikan informasi yang bernilai maka ia “berlangganan erat” dengan blog tersebut.

Dengan tidak bermaksud meniadakan peran elemen atau institusi yang lain, Penulis yakin kehadiran blog dalam tema kepariwisataan dapat menjadi penguat sekaligus bahkan garda depan dalam usaha mensukseskan program Visit Banda Aceh 2011 secara global. ***